Mounhis #2: Sejarah Gunung Bromo dan Tengger

bromo

Gunung Bromo merupakan gunung yang terkenal karena keindahan panoramanya. Secara administratif gunung ini terletak di Jawa Timur. Gunung berada dalam kompleks Pegunungan Tengger dan merupakan satu-satunya gunung berapi dalam komplek pegunungan tersebut.

Kompleks Kegunungan Tengger merupakan dataran tinggi yang terdapat di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang, Jawa Timur. Dataran tinggi ini tersusun oleh batuan hasil letusan beberapa gunung api di sekitarnya. Bentuk morfologinya memperlihatkan bentuk sangat spesifik seperti kerucut maha besar terpancung bagian atasnya.

Sesuai sebutannya sebagai wilayah kompleks pegunungan, wilayah ini terbentuk dan tersusun oleh beberapa gunung api yang dulu aktif. Gunung-gunung api tersebut mengeluarkan material letusan ketika masih aktif. Kini gunung api tersebut hampir semuanya telah tidak aktif lagi, kecuali Bromo yang aktif hingga saat ini. Hasil letusan kompleks gunung api itu terdiri atas berbagai macam bahan batuan vulkanik yang terendapkan saling menindih. Skala letusan yang terjadi berbeda-beda. Kesemuanya meninggalkan kawah dan kaldera di bagian puncaknya yang membentuk posisi berderet atau melingkar atau bahkan saling memotong antara satu dengan lainnya.

Hasil penelitian para ahli gunung api menunjukkan bahwa endapan batuan dari kompleks gunung api ini tersebar sangat luas. Persebaran hasil letusan ini ke sampai masuk ke Selat Madura di utara, kota Lawang dan Malang di bagian barat, Ranu Pani di sebelah selatan, dan Klakah di arah timur. Kompleks gunung api Tengger yang sangat luas, lebih dari 1.200 km2, ini terdiri atas gunung api berumur Kuarter dan gunung api Resen yang masih aktif sampai saat ini yaitu Gunung Bromo. Gunung ini muncul di dalam kaldera Lautan Pasir yang sangat terkenal di seluruh dunia karena keindahan panoramanya.

Ada dua kompleks kaldera besar di wilayah ini, yakni Kaldera Kompleks Tengger yang berumur Kuarter dan kaldera Kaldera Nangka Jajar yang berumur Tersier yang berada di sebelah baratnya. Di kompleks Tengger sendiri sedikitnya ada dua kaldera, yaitu Kaldera Ngadisari di sebelah timur dan Kaldera Lautan Pasir di sebelah barat yang berumur lebih muda dari Kaldera Ngadisari. Kemungkinan ada satu kaldera lagi yang berukuran lebih kecil di wilayah ini. Di samping kaldera-kaldera tersebut, ada lembah yang sangat besar dan dalam dengan ukuran lebar pada bagian atasnya sekitar 3,7 km yang menyempit ke arah kaki timur laut dari Kompleks Tengger. Lembah yang disebut Sapikerep ini mempunyai kedalaman sekitar 1.000 m sepanjang 6-7 km.

Kondisi alam Pegunungan Tengger yang sangat spesifik dan unik tersebut menarik perhatian para ahli dari berbagai manca negara sejak zaman Belanda, baik dari ahli gunung api maupun ahli ilmu lainnya seperti ahli botania dan sebagainya.

Teori Pembentukan Pegunungan Tengger

Hasil penelitian para ahli gunung api mengerucut pada dua teori tentang pembentukan Pegunungan Tengger, yaitu bahwa pegunungan ini terbentuk oleh dua gunung api kembar, dan teori lainnya yang berpendapat bahwa hanya satu gunung api yang cukup besar yang membentuk Tengger.

Teori pertama menyatakan bahwa kompleks pegunungan Tengger terbentuk oleh dua gunung api kembar yang mempunyai ketinggian sekitar 4.500 m dengan jarak 4,5 km antara kedua puncaknya.

Teori kedua mengemukakan bahwa kompleks gunung api ini hanyalah gunung api tunggal yang kemudian meletus dengan sangat hebat membentuk kaldera sebanyak dua kali atau lebih dalam waktu yang berbeda. Mungkin untuk teori yang kedua ini hampir sama dengan kasusnya Gunung Tambora.

Lima Tahap Evolusi

Secara singkat, proses geologi di sekitar Pegunungan Tengger terjadi dalam lima tahapan dengan urutan berikut ini.

Tahap Pertama

Gunung Tengger yang berketinggian sekitar 4.000 m dengan pusat letusannya berada sekitar daerah Ngadisari mempunyai danau kawah di puncaknya dan kerucut parasit yang berada di kaki baratnya yang hadir sekitar 265.000 tahun yang lalu (tyl). Kerucut ini kini disebut Gunung Ijo.

Tahap Kedua

Setelah aktivitas Gunung Ijo terhenti, pusat aktivitas kemudian kembali ke sekitar Ngadisari. Kemudian berlangsunglah peningkatan aktivitas yang menerus sampai terjadi letusan paroksima (letusan dahsyat) pada 152.000 tyl lalu membentuk kaldera pertama yang disebut Kaldera Ngadisari. Aktivitas itu diawali dengan terjadinya letusan-letusan freatik kemudian berlanjut dengan letusan magmatik dan diakhiri oleh letusan katastropis yang melongsorkan dinding timur kaldera tersebut. Letusan ini, disamping menghasilkan endapan piroklastik jatuhan dan “surge”, juga menghasilkan endapan aliran piroklastik (ignimbrit) yang volumenya sangat besar dan sebarannya luas mencapai Selat Madura. Endapan ignimbrit ini berupa campuran material antara fragmen batuan, abu, air, dan gas bergulung-gulung melewati lembah Sapikerep menuju lereng Gunung Tengger dan tersebar ke arah barat, timur, dan utara melalui celah Sukapura seperti adukan yang dicurahkan dari celah tersebut. Ignimbrit ini membentuk kipas raksasa seluas sekitar 320 km2 dengan ketebalan rata-rata 40 m yang bagian pangkalnya berada di Sukapura dan bagian mulutnya ke arah utara sampai di Selat Madura.

Tahap Ketiga

Setelah terbentuknya kaldera Ngadisariaktivitas vulkanik kemudian terhenti cukup lama karena dapur magma yang ada telah tercurahkan semua isinya dalam letusan paroksisma pada tahap kedua. Aktivitas vulkanik kemudian meningkat lagi dengan terbentuknya kerucut baru di sekitar Gunung Lingker di sebelah selatan, Gunung Penanjakan di sebelah barat daya, Gunung Argowulan di sebelah utara, dan sekitar Cemara Lawang. Aktivitas vulkanik pada kala ini diawali dengan terbentuknya lava andesit pada 144.000 tahun yang lalu. Pada tahap ini terbentuklah selang-seling endapan freatomagmatik dan magmatik dari endapan jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava yang diakhiri terbentuknya endapan abu setebal 8-9 meter. Endapan ini berkaitan dengan pembentukan kawah berukuran kl. 3 km yang dapat katagorikan sebagai kaldera kecil yang kemudian disebut kaldera Argowulan. Tetapi kaldera ini kemudian terbongkar lagi ketika terjadi letusan paroksimal berikutnya dan hanya meninggalkan bagian tepi dindingnya seperti Gunung Argowulan, Lingker, dan Penanjakan yang tampak saat ini.

Tahap keempat

Pembentukan kerucut baru yang pusat letusannya di antara Pematang Cemara Lawang dengan Gunung Batok, berjarak sekitar 1,5 km sebelah barat dinding Cemara Lawang. Kerucut ini aktivitasnya diawali dengan terbentuknya endapan freatomagmatik, disusul selang-seling aliran lava, jatuhan piroklastik, dan aliran piroklastik. Tahap ini didominasi oleh letusan eksplosif yang menghasilkan endapan jatuhan piroklastik dan aliran piroklastik. Tercatat sekitar delapan jenis aliran piroklastik yang tersebar menutup Kaldera Ngadisari berumur antara 100.000-33.000 tahun yang lalu. Tahap ini diakhiri dengan terbentuknya Kaldera Lautan Pasir yang menghasilkan endapan aliran abu yang tersebar ke segala arah dengan radius 10 km dan tebal dari beberapa meter hingga 30 meter pada tepi dinding kaldera.

Tahap Kelima

Tahapan aktivitas vulkanik yang berada dalam Kaldera Lautan Pasir. Aktivitas tersebut membentuk enam kerucut gunung api, yaitu Widodaren, Segoro Wedi Lor, Segoro Wedi Kidul, Kursi, Batok, dan Bromo. Berdasarkan endapan jatuhan piroklastik dari pembentukan kawah Widodaren menunjukkan bahwa kerucut ini sudah ada sekitar 1.810 tyl.

Tahap Keenam

Aktivitas vulkanik yang masih terus berlangsung sampai saat ini terjadi pada kerucut Bromo berupa letusan eksplosif yang menghasilkan endapan jatuhan piroklastik yang tersebar sampai ke wilayah sekitarnya dengan jeda letusan antara beberapa bulan sampai 16 tahun. Aktivitas terakhir Gunung Bromo terjadi pada November 2010 sampai Juli 2011 berupa letusan freatomagmatik dan magmatik.

Sekian postingan kali ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa follow IG & Twitter kami di @myparadizee dan like fanspage kami @myparadizee (juga). Share artikel ini jika dirasa memberikan manfaat, terima kasih.

Sumber: http://geomagz.geologi.esdm.go.id/sekilas-geologi-pegunungan-tengger/

About Muhammad Iqbal Maulana

Sedikit mengeluh dan banyak berbagi. Untuk kepentingan kerjasama, buka halaman Kerjasama dan Review

View all posts by Muhammad Iqbal Maulana →

2 Comments on “Mounhis #2: Sejarah Gunung Bromo dan Tengger”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *