Napak Tilas #3: Sejarah Gunung Rinjani yang Erat dengan Gunung Samalas

Sumber: hipwee.com

Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Rinjani? Gunung yang terkenal karena keindahan alamnya. DI gunung ini juga terdapat kaldera yang cukup besar (Danau Segara Anak) dan juga anak gunung yang bernama Gunung Barujari. Dibalik keindahan alamnya, Gunung Rinjani menyimpan sejarah yang patut kita ketahui.

Sejarah Gunung Rinjani tidak lepas dari keberadaan Gunung Samalas. Jika dilihat dari bentuknya, Gunung Rinjani yang ada sekarang terkesan memiliki bentukyang terlalu besar untuk ukuran sebuah gunung berapi tunggal. Anggapan itu tidak salah. Gunung Rinjani lebih merupakan gunung berapi kembar, yakni dua gunung berapi yang saling bersebelahan dan memiliki satu sumber pasokan magma yang sama. Kembaran Rinjani tumbuh di sisi baratnya, di tempat yang kini menjadi Danau Segara Anak. Catatan sejarah dalam Babad Lombok mengindikasikan kembaran Rinjani bernama Gunung Samalas.

Kemanakah Gunung Samalas sekarang ini? Mengapa kini berubah menjadi Danau Segara Anak? Mari kita simak tulisan Babad Lombok di bawah ini untuk menemukan jawabannya.

Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah2 rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati.

Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit.

Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit.

Di Nangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun.

Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik.

Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing.

(Babad Lombok)

Sumber: sains.kompas.com

Gunung Samalas meletus pada tahun 1257. Letusan Samalas berdampak global dan diduga memicu kelaparan dan kematian massal di Eropa setahun setelah letusan.

“Ditemukannya ribuan kerangka manusia di London yang dipastikan berasal dari tahun 1258 kemungkinan berkaitan erat dengan dampak global dari letusan Gunung Samalas pada tahun 1257,” seperti ditulis dalam jurnal PNAS edisi akhir September 2013.

Tulisan di jurnal ini merupakan hasil penelitian 15 ahli gunung api dunia. Dari Indonesia yang terlibat adalah Indyo Pratomo, geolog dari Badan Geologi Bandung, Danang Sri Hadmoko dari Geografi Universitas Gadjah Mada dan  Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Para peneliti meyakini letusan Samalas diperkirakan sama besarnya dengan Krakatau di tahun 1883 dan Tambora di tahun 1815.

Sumber:

 

About Muhammad Iqbal Maulana

Sedikit mengeluh dan banyak berbagi. Follow me on instagram @mhiqbaal. Untuk kepentingan kerjasama, buka halaman Kerjasama dan Review

View all posts by Muhammad Iqbal Maulana →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *