Mungkin Kami Tak Berjodoh Dengan Coban Jodo

COBAN JODO
Untuk mengawali Bulan April di tahun 2017, saya akan membagikan catatan perjalanan menuju Coban Jodo. Perjalanan ini saya lakukan pada tanggal 1 April 2017 dengan anggota sebanyak 3 orang yakni saya (Iqbal), Ilham, dan Lutfi.

Dari hasil jarkom di grup Whatsapp, sebenarnya kami merencanakan berangkat pukul 08.00 dari kosan Ilham (daerah sawojajar), tapi ternyata pada kenyataannya ya sudah bisa ditebak kalau molor. Pukul 08.30 kami baru ngumpul di kosan Ilham. Setelah personil lengkap, langsung saja kami memulai perjalanan menuju ke Coban Jodo dengan menunggangu kuda besi.

Coban Jodo terletak di Kecamatan Jabung. Kalau dari Malang, kita tinggal ikuti saja arah menuju ke Coban Jahe.  Tepatnya, kita ikuti saja jalan ke arah Pasar Pakis/Tumpang, nanti setelah gapura selamat datang di Kota Tumpang ada pertigaan lalu kita belok kiri. Setelah belok kiri, ikuti terus jalan yang ada sampai ketemu dengan pertigaan, nanti di pertigaan itu belok kanan (ambil arah ke Precet) dan ikuti jalan itu sampai habis. Jalan aspal akan habis di Desa Ngadirejo, selanjutnya jalanan berganti dengan jalan cor-coran (di awal) dan jalan makadam yang lumayan panjang. Terus ikuti jalan makadam itu sampai ketemu pertigaan lagi dengan penunjuk arah Coban Jodo belok kanan, kita belok kanan dan tak jauh dari pertigaan itu kita telah sampai di parkiran Coban Jodo.

Kami berangkat lewat Ampeldento. Sekitar pukul 09.30 kami sampai di parkiran Coban Jodo. Di parkiran ini sepi sekali dan hanya ada beberapa masyarakat desa yang bertugas sebagai pengelola Coban Jodo ini. Setelah sepeda terparkir, kami langsung tancap gas trekking menuju ke lokasi coban.

Menurut informasi dari bapak-bapak di parkiran, lokasi coban ini ada di bawah lembah dengan jarak sekitar 1 km dari parkiran. Menurut informasi dari bapak-bapak itu juga jumlah coban (air terjun) di bawah ada 4 buah dan Coban Jodo ini terletak di paling ujung/atas.  Jadi kami harus trekking sejauh 1 km-an untuk mencapai lokasi coban ini. Di awal-awal perjalanan treknya tidak begitu melelahkan dan cenderung datar alias biasa-biasa saja. Hanya sesekali ada turunan yang lumayan curam.

coban jodo
Jalur trekking

Di pos 1 ini kami tidak istirahat dan langsung gaspol menuju pos kedua.trek masih berupa turunan dan masuk ke dalam hutan. Hutannya disini lembab. Hati-hati dengan hutan lembab, karena biasanya hutan yang lembab ini banyak hewan pacet alias drakula. Menjelang sampai di pos 2, kami melewati toilet dan istirahat sebentar disini (pipis di toilet bokkk). Disini toiletnya berupa bilik dan di dalamnya jangan berharap kalau ada cibuk dan bak airnya. Yang ada cuma pancuran air saja. Setelah urusan buang membuang air selesai, kami melajutkan perjalanan kembali. Sekitar 30 meter setelah melewati toilet, kami melewati mushola.Di jalur trekking ini ada 3 pos untuk istirahat, 1 toilet bilik dan 1 mushola. Sekitar 3 menit berjalan, kami sampai di pos 1 ‘penurunan’ Coban Jodo. Kok penurunan? Lah trekking waktu berangkatnya kan jalannya turun, ya saya namai saja jalur penurunan :p. Kalau jalannya naik kan jalur pendakian hehehe.

Kami terus berjalan, setelah melewati satu tikungan dari mushola kami sampai di pos 2. Kami juga tidak istirahat disini dan langsung tancap gas menuju pos 3. Treknya terus menurun dan menurun hingga akhirnya kami sampai di pos 3. Kami istirahat sebentar disini. FYI, di pos 3 ini sangat lembab sekali jadi hati-hati akan serangan pacet. Kami menemukan sebuah pacet lo di pos 3 ini.

Setelah istirahat selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Trek yang awalnya berupa turunan yang cenderung datar dan biasa-biasa saja berubah menjadi turunan yang lumayan curam. Tidak 1 atau 2 turunan, tetapi turunan ini terus menerus sampai kami sampai di tepi sungai di bawah. Kami berjalan dengan sangat hati hati-hati, karena selain curam jalannya licin dan banyak pacetnya lo. Saya terus waspada dengan serangan drakula ini. Maklum saya jijik sekali dengan pacet.

Sekitar 10 menit berjalan dari pos 3, akhirnya kami sampai di tepian sungai. Di sini kami menyempatkan untuk foto-foto sebentar. Setelah sesi foto-foto selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini treknya berganti dengan menyusuri aliran sungai. Yap menyusuri sungai dengan kedalaman dangkal tapi arusnya agak deras jadi kami dituntut untuk selalu berhati-hati agar tidak terpeleset.

coban jodo
Menyusuri sungai

Sekitar 7 menit berjalan, kami akhirnya sampai di lokasi air terjun yang pertama. Tingginya mungkin sekitar 50 meter dan airnya tidak terlalu deras. Di sini kami melakukan sesi foto-foto lagi dan istirahat sejenak. Beberapa jepretan foto telah diambil, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke air terjun yang kedua. Treknya masih sama, yakni menyusuri aliran sungai.

coban jodo
Air terjun pertama

Ternyata letak air terjun yang kedua tidak begitu jauh dari air terjun yang pertama. Kami tempuh selama 5 menit berjalan dari lokasi air terjun yang pertama. Sampai di air terjun yang kedua kami melakukan sesi foto-foto lagi. Di sini kami mencari spot yang enak dan menggelar tripod.

Air terjun yang kedua ini lebih pendek dari air terjun yang pertama (mungkin sekitar 20-30 meter lah) tetapi airnya deras sekali. Bulir-bulir air terasa berterbangan dan membasahi baju ketika kami berfoto di dekat air terjun.

coban jodo
Air terjun kedua

Setelah mengemasi tripod dan kamera, kami bergegas kembali ke parkiran. Bukannya menunjukkan tanda-tanda cerah, langit malah bertambah menjadi semakin gelap. Dengan langkah kaki yang menggebu-gebu kami kembali menyusuri aliran sungai.Asyik berfoto-foto ria, tiba-tiba langit berubah menjadi gelap. Kami pun segera memercepat sesi foto-foto. Melihat langit yang gelap, dengan berat hati kami terpaksa balik kanan dan tidak melanjutkan perjalanan menuju ke air terjun ketiga dan keempat. Yah sayang sekali ya, tapi daripada dilanjutkan malah membahayakan. Kami mempertimbangkan cuaca karena jika turun hujan takutnya volume air akan naik dan bisa membahayakan perjalanan pulang ketika menyusuri aliran sungai.

Akhirnya kami sampai di tepian sungai dan tanjakan sudah menyapa di depan mata. Dengan langkah kaki yang menggebu-gebu (lagi), kami menyantap tanjakan demi tanjakan. Langitpun semakin menunjukkan tanda-tanda akan meneteskan air. Dan benar saja, tepat di tanjakan sebelum pos 3 hujan sudah turun. Kami segera mempercepat langkah kaki untuk segera berteduh di pos 3.

Di pos 3, kami berteduh lumayan lama sambil menunggu hujan agak reda. Perlu kalian ketahui, diantara kami bertiga cuma Ilham saja yang membawa mantel. Menit demi menit berlalu, akhirnya hujan sudah agak reda. Kami melanjutkan perjalanan kembali. Kami berjalan di tengah rintik-rintik hujan gerimis.

Tak terasa kami sampai di pos 2, disini kami istirahat sejenak dan melakukan foto-foto. Setelah dirasa cukup, kami melajutkan perjalanan lagi sampai ke lokasi mushola. Di mushola, kami istirahat lagi. Lumayan menguras tenaga perjalanan kembali dari lokasi air terjun menuju ke parkiran karena jalannya nanjak terus!

Kami melanjutkan perjalanan kembali menuju parkiran. Kali ini hujan sudah mulai reda. Langkah kaki kami semaki cepat. Dan benar saja, tak lama berjalan dari mushola, kami sampai di pos 1. Di pos 1 ini kami istirahat lagi dan foto-foto. Pemandangannya lumayan indah disini, dimana di hadapan kami terdapat lembah yang berselimut kabut khas pegunungan. Sungguh memanjakan mata.

Sekitar 5 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali. Cukup melewati 2/3 tanjakan, kami sudah sampai di lokasi parkiran. Di sini kami istirahat lagi. Banyak istirahatnya yak :p. Saya menyempatkan untung berbincang-bincang dengan seorang bapak di lokasi parkiran. Saya bertanya tentang Coban Jodo. Sang bapak mendeskripsikan Coban Jodo (air terjun utama yang letaknyapaling ujung) ini tingginya sekitar 165 meter dan ada dua air terjun yang berjejer. Sang bapak mengklaim kalau Coban Jodo lebih tinggi dari Coban Pelangi. Lalu sang bapak memberitahukan kalau bukit yang ada di seberang parkiran itu adalah wilayah Gubugklakah, Poncokusumo. Dan benar saja, dari lokasi parkiran, saya bisa melihat lokasi rest area Poncokusumo. Ealah nggeletek!

Setelah saya mengakhiri perbincangan dengan sang bapak dan istirahat, kami pun kembali pulang. Begitu pula dengan catatan perjalanan ini yang harus saya akhiri sampai disini. Sampai bertemu di catatan perjalanan selanjutnya. Semoga kalian suka.

FAQ (Frequently Asked Question):
Coban Jodho treknya susah gak?

Lumayan susah. Karena Cobannya berada di bawah, maka treknya berupa turunan terus. Dari pos 1 sampai pos 3 treknya  cenderung biasa, tapi setelah pos 3 baru lah treknya lumayan menantang. Terutama di bagian yang menyusuri aliran sungai.

HTM Berapa?

HTM Rp. 5.000 dan biaya parkir 2.500/ sepeda motor

Kalau kesana bisa pakai mobil gak?

Enggak bisa, jalannya kecil kalau mau kesini, tidak berasapal alias makadam dan licin.

Jarak dari parkiran ke lokasi coban berapa kilo?

Sekitar 1 – 1,5 Km

Butuh waktu berapa lama buat trekking ke lokasi coban?

Sekitar 1-1,5 jam mungkin. Kalau trekking dari coban ke parkiran waktunya jadi semakin lama karena jalannya menanjak.

Caranya biar gak digigit pacet gimana kan di jalur trekking banyak pacetnya?

Olesi tubuh tangan, kaki atau bagian tubuh yang terbuka dengan obat nyamuk lotion (autan/soffel) atau bisa juga dengan minyak sirih. Lebih lengkapnya kalian bisa baca di artikel ini.

Menurut mimin Coban Jodo recomended gak?

Recomended bagi kalian yang ingin mencari kesunyian dan menikmati alam karena di coban ini esensi dari menikmati alam sangat terasa sekali.

About Muhammad Iqbal Maulana

Sedikit mengeluh dan banyak berbagi. Untuk kepentingan kerjasama, buka halaman Kerjasama dan Review

View all posts by Muhammad Iqbal Maulana →

One Comment on “Mungkin Kami Tak Berjodoh Dengan Coban Jodo”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *