Mengenal 12 Taman Nasional yang Ada di Pulau Jawa

taman nasional

Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli yang dikelola dengan system zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan enelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Tahukah kalian, Indonesia mempunyai 53 taman nasional yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini. Di Pulau Jawa sendiri terdapat 12 taman nasional yang tersebar di berbagai provinsi dan menunggu untuk kamu jelajahi. Berikut ini daftar 12 taman nasional yang ada di Pulau Jawa.

1. Taman Nasional Ujung Kulon

Secara administratif, Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon terletak  di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandegelang, Provinsi Banten. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon meliputi Gunung Honje, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Semenanjung Ujung Kulon dan perairan di sekitarnya dengan total luas 122.956 Ha.

TN ujung kulon
Wilayah TN Ujung Kulon

Kawasan Ujung Kulon pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli Botani Jerman, F. Junghun pada Tahun 1846, ketika sedang mengumpulkan tumbuhan tropis. Pada masa itu kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon sudah mulai dikenal oleh para peneliti. Bahkan perjalanan ke Ujung Kulon ini sempat masuk di dalam jurnal ilimiah beberapa tahun kemudian. Tidak banyak catatan mengenai Ujung Kulon sampai meletusnya gunung krakatau pada tahun 1883. Namun kemudian kedahsyatan letusan Krakatau yang menghasilkan gelombang tsunami setinggi kurang lebih 15 meter, telah memporak-porandakan tidak hanya pemukiman penduduk di Ujung Kulon, tetapi satwaliar dan vegetasi yang ada. Meskipun letusan Krakatau telah menyapu bersih kawasan Ujung Kulon, akan tetapi beberapa tahun kemudian diketahui bahwa ekosistem-vegetasi dan satwaliar di Ujung Kulon tumbuh baik dengan cepat.

Pada tahun 1992, Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Natural World Heritage Site dengan Surat Keputusan Nomor: SC/Eco/5867.2.409 Tanggal 1 Februari 1992.

Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon memiliki tiga tipe ekosistem yaitu:

  • Ekosistem daratan/teresterial, terdiri dari hutan hujan tropika dataran rendah yang terdapat di wilayah Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
  • Ekosistem perairan laut terdiri dari terumbu karang dan padang lamun yang terdapat di wilayah perairan Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
  • Ekosistem pesisir pantai terdiri dari hutan pantai yang terdapat di sepanjang pesisir pantai dan hutan mangrove di bagian timur laut Semenanjung Ujung Kulon.

Ketiga ekosistem tersebut mempunyai hubungan saling ketergantungan dan membentuk dinamika proses ekologi yang sangat kompleks di dalam kawasan.

Beberapa jenis tumbuhan diketahui langka dan di pulau jawa hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon antara lain : Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan Knema globularia. Sedangkan jenis satwa endemik penting dan merupakan jenis langka yang sangat perlu dilindungi adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis aigula) dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

2. Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS)
TN kepulauan seribu
Sumber: dolandolen.com

Secara administratif kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu berada dalam wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, terletak di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, tepatnya di tiga kelurahan yaitu Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan. Taman nasional ini mempunyai luas 108.000 ha.

Kawasan Taman nasional Kepulauan Seribu merupakan habitat bagi penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang dilindungi, dan keberadaannya cenderung semakin langka. Dalam upaya pelestarian satwa ini, selain dilakukan perlindungan terhadap tempat-tempat penelurannya seperti Pulau Peteluran Timur, Penjaliran Barat, Penjaliran Timur dan Pulau Belanda, telah dilakukan juga pengembangan pusat penetasan, pembesaran dan pelepasliaran penyu sisik di Pulau Pramuka dan Pulau Sepa.

3. Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS)
TN Gunung Salak
Sumber: hipwee.com

Secara administratif, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak berada dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat, dan Lebak di Provinsi Banten. Topografi di taman nasional ini berbukit-bukit dan bergunung-gunung, pada kisaran ketinggian antara 500–2.211 m dpl. Puncak-puncaknya di antaranya adalah G. Halimun Utara (1.929 m), G. Ciawitali (1.530 m), G. Kencana (1.831 m), G. Botol (1.850 m), G. Sanggabuana (1.920 m), G. Kendeng Selatan (1.680 m), G. Halimun Selatan (1.758 m), G. Endut (timur) (1.471 m), G. Sumbul (1.926 m), dan G. Salak (puncak 1 dengan ketinggian 2.211 m, dan puncak 2 setinggi 2.180 m). Total luas dari Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yakni luas 113.357 ha.

Tidak kurang dari 244 spesies burung, 27 spesies di antaranya adalah jenis endemik Pulau Jawa yang memiliki daerah sebaran terbatas. Wilayah ini juga telah ditetapkan oleh BirdLife, organisasi internasional pelestari burung, sebagai daerah burung penting (IBA, important bird areas) dengan nomor ID075 (Gunung Salak) dan ID076 (Gunung Halimun). Wilayah-wilayah ini terutama penting untuk menyelamatkan jenis-jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi), luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), celepuk jawa (Otus angelinae), dan gelatik jawa (Padda oryzivora).

Untuk mamalia, terdapat 61 spesies. Di antaranya termasuk jenis-jenis langka seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan juga ajag (Cuon alpinus).

4. Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP)
TN Gede pangrango
Sumber: www.gedepangrango.org

Secara administratif Kawasan taman Nasional Gede Pangrango berada di wilayah 3 kabupaten yakni Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi), Provinsi Jawa Barat. Taman Nasional ini memiliki luas 22.851,03 ha.

Taman nasional ini memiliki dua puncak kembar, yakni puncak Gede (2.958 m dpl) dan puncak Pangrango (3.019 m dpl). Kedua puncak itu dihubungkan oleh gigir gunung serupa sadel pada ketinggian lk 2.400 m dpl, yang dikenal sebagai daerah Kandang Badak. Gunung Pangrango yang lebih tinggi, memiliki kerucut puncak yang relatif mulus, tipikal gunung yang masih relatif muda usianya. Gunung Gede lebih rendah, namun lebih aktif, dengan empat kawah yang masih aktif yaitu Kawah Ratu, Kawah Wadon, Kawah Lanang, dan Kawah Baru.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki kekayaan jenis hewan yang cukup tinggi, beberapa jenisnya yang terhitung langka, endemik atau terancam kepunahan, di antaranya, adalah owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata), anjing ajag (Cuon alpinus), macan tutul (Panthera pardus), biul slentek (Melogale orientalis), sejenis celurut gunung (Crocidura orientalis), kelelawar (Glischropus javanus dan Otomops formosus), sejenis bajing terbang (Hylopetes bartelsi), dua jenis tikus (Kadarsanomys sodyi dan Pithecheir melanurus). Beberapa jenis burung seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi), serak bukit (Phodilus badius), celepuk jawa (Otus angelinae), cabak gunung (Caprimulgus pulchellus), walet gunung (Collocalia vulcanorum), pelatuk kundang (Reinwardtipicus validus), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), anis hutan (Zoothera andromedae), dan beberapa spesies lain.

5. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC)
TN Gunung Ciremai
Sumber: news.okezone.com

Secara administratif, Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai berada dalam wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Taman nasional ini memiliki luas 15.500 Ha. Keberadaan taman nasional ini dimaksudkan untuk melindungi kekayaan hayati dan lingkungan di wilayah Gunung Ceremai.

Gunung Ciremai merupakan daerah penting bagi burung (IBA, Important Bird Areas JID 24), sekaligus daerah burung endemik (EBA, Endemic Bird Areas DBE 160). Beberapa jenisnya berstatus rentan (IUCN:VU, vulnerable), misalnya celepuk jawa (Otus angelinae) dan ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea). Tercatat pula sekurangnya 18 spesies yang lain yang berstatus burung sebaran terbatas (restricted area bird) seperti halnya puyuh-gonggong jawa (Arborophila javanica), walik kepala-ungu (Ptilinopus porphyreus), takur bututut (Megalaima corvina), berkecet biru-tua (Cinclidium diana), poksai kuda (Garrulax rufifrons), cica matahari (Crocias albonotatus), opior jawa (Lophozosterops javanicus), kenari melayu (Serinus estherae), dan lain-lain.

Selain itu di Taman Nasional Gunung Ciremai juga terdapat beberapa jenis mamalia penting, di antaranya, macan tutul (Panthera pardus), surili (Presbytis comata), lutung budeng (Trachypithecus auratus), kukang jawa atau muka geni (Nycticebus javanicus), kijang muncak (Muntiacus muntjak); dan pelanduk jawa (Tragulus javanicus).

6. Taman Nasional Karimun Jawa
karimun jawa
Sumber: happychap.eu

Secara administratif, Kawasan Taman Nasional Karimun Jawa berada dalam wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Taman Nasional ini memiliki luas 111.625 Ha.

Saat ini Taman Nasional Karimunjawa dikelola oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa dengan tugas utama melaksanakan pengelolaan ekosistem kawasan Taman Nasional Karimunjawa dalam rangka konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

7. Taman Nasional Gunung Merapi
TN Gunung Merapi
Sumber: jowonews.com

Secara administratif, Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi berada dalam wilayah Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten di Jawa Tengah, serta Kabupaten Sleman di Yogyakarta. Taman nasional ini memiliki luas 6.410 ha, dengan 5.126,01 ha di wilayah Jawa Tengah dan 1.283,99 ha di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penunjukan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi dilakukan dengan SK Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004. Tujuan pengelolaannya adalah perlindungan bagi sumber-sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan kabupaten/kota-kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang.

Sebelum ditunjuk menjadi Taman Nasional Gunung Merapi, kawasan hutan di wilayah yang termasuk provinsi DI Yogyakarta terdiri dari fungsi-fungsi hutan lindung seluas 1.041,38 ha, cagar alam (CA) Plawangan Turgo 146,16 ha; dan taman wisata alam (TWA) Plawangan Turgo 96,45 ha. Kawasan hutan di wilayah Jateng yang masuk dalam wilayah TN ini merupakan hutan lindung seluas 5.126 ha.

8. Taman Nasional Gunung Merbabu
TN Gunung Merbabu
Sumber: toplintas.com

Secara administratif, Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu berada dalam wilayah 3 kabupaten yakni Kabupaten Boyolali, Magelang dan Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Taman nasional ini memiliki luas 5.820,49 ha.

Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 135/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan lindung dan taman wisata alam pada kelompok hutan Merbabu seluas 5.725 hektare. Kawasan ini dinilai penting sebagai sumber mata air bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Selain itu, kawasan hutan Merbabu juga merupakan habitat flora dan fauna yang dilindungi dan dilestarikan. Sistem pengelolaan taman nasional yang diterapkan diharapkan mampu untuk melestarikan dan mengembangkan kawasan konservasi ini sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagaimana umumnya kawasan hutan di Jawa, Taman Nasional Gunung Merbabu tidak luput dari berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas ilegal masyarakat di sekitarnya. Beberapa yang terekam di antaranya kegiatan-kegiatan penambangan pasir dan batu tak berizin, pencurian kayu, dan pembukaan tutupan hutan untuk bertani sayur-sayuran.

Beberapa jenis hewan yang tercatat dari kawasan ini di antaranya adalah elang jawa, elang hitam, alap-alap sapi, elang-ular bido, ayam hutan, tekukur, gelatik batu, kijang, landak, musang luwak, monyet ekor-panjang, macan tutul, dan lain-lain.

9. Taman Nasinal Bromo Tengger Semeru
Gunung Bromo
Bromo Sunrise
Sumber: surabaya.panduanwisata.id

Secara administratif, Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berada dalam wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Taman Nasional ini memiliki luas 50.276,3 ha.

Di kawasan Taman Nasional ini terdapat beberapa gunung yang salah satunya yakni Gunung Semeru (3676 Mpdl) merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung-gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah sebagai berikut:

  • Gunung Semeru (3676 mdpl)
  • Gunung Bromo (2329 mdpl)
  • Gunung Batok (2470 mdpl)
  • Gunung Kursi (2581 mdpl)
  • Gunung Watangan (2601 mdpl)
  • Gunung Widodaren (2650 mdpl)
  • Gunung Linggo
  • Gunung Penanjakan
  • Gunung Pundak Lembu
  • Gunung Gandera
  • Gunung Ringgit
  • Gunung Widangan
  • Gunung Sumbersenami
  • Gunung Pranten
  • Gunung Bajangan

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun antara lain cemara gunung, jamuju, edelweis, berbagai jenis anggrek dan rumput langka. Pada dinding yang mengelilingi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terdapat banyak rerumputan, mentigi, akasia, cemara, dll.

Satwa yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Paradoxurus hermaphroditus), rusa (Rusa timorensis), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus javanicus), dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

10. Taman Nasional Meru Betiri (TNMB)
Pantai Bandealit di kawasan TN Meru Betiri. (sumber: wikipedia.org)

Secara administratif, kawasan Taman Nasional Meru Betiri berada dalam wilayah Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Taman nasional ini memiliki luas 58.000 ha. Nama taman nasional ini diambil dari nama gunung tertinggi di kawasan ini yaitu gunung Betiri (1.223m).

Taman nasional Meru Betiri merupakan habitat tumbuhan langka yaitu padma (Rafflesia zollingeriana) yang endemik di Jawa. Sedangkan untuk satwa yang dilindungi di Taman Nasional Meru Betiri terdiri dari mamalia, dan burung. Satwa tersebut di antaranya adalah banteng (Bos javanicus javanicus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus javanicus), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), rusa (Cervus timorensis russa), bajing terbang ekor merah (Iomys horsfieldii), merak (Pavo muticus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu lekang/ridel (Lepidochelys olivacea).

11. Taman Nasional Baluran
Sumber: hipwee.com

Secara administratif Kawasan Taman Nasional Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur dengan batas-batas wilayah sebelah utara Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, sebelah selatan Sungai Bajulmati, Desa Wonorejo dan sebelah barat Sungai Klokoran, Desa Sumberanyar. Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu Gunung Baluran.

Di Taman Nasional ini terdapat 26 jenis mamalia, di antaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tragulus javanicus pelandoc), kucing bakau (Prionailurus viverrinus). Selain itu, terdapat sekitar 155 jenis burung, di antaranya termasuk burung langka seperti layang-layang api (Hirundo rustica), tuwuk asia (Eudynamys scolopacea), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan merah (Gallus gallus), kangkareng (Anthracoceros convecus), burung rangkong (Buceros rhinoceros), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus)

12. Taman Nasional Alas Purwo

Secara administratif, Kawasan Taman Nasional alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Secara geografis terletak di ujung tenggara Pulau Jawa wilayah pantai selatan tepatnya di Semenanjung Blambangan.

TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :

  • Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 ha
  • Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 ha
  • Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 ha
  • Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 ha.

Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Taman Nasional Alas Purwo termasuk tinggi. Diketahui lebih dari 700 jenis tumbuhan mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai tipe/formasi vegetasi. Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki).

Untuk fauna, di Taman Nasional ini terdapat beberapa jenis mamalia yakni banteng (Bos javanicus), rusa (Cervus timorensis), ajag (Cuon alpinus), babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), lutung (Tracypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) jelarang (Ratufa bicolor), rase (Vivericula indica), linsang (Prionodon linsang), luwak (Paradoxurus hermaprhoditus), garangan (Herpestes javanicus) dan kucing hutan (Felis bengalensis).

Sekian postingan kali ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa follow IG & Twitter kami di @myparadizee dan like fanspage kami @myparadizee  (juga). Share artikel ini jika dirasa memberikan manfaat, terima kasih.

 

About Muhammad Iqbal Maulana

Sedikit mengeluh dan banyak berbagi. Untuk kepentingan kerjasama, buka halaman Kerjasama dan Review

View all posts by Muhammad Iqbal Maulana →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *