Lost in BWX: Panasnya Pantura dan Gagal ke TN Baluran (PART 1)

WADUK BAJULMATI

Cerita ini berawal dari obrolan grup KKN KEMIREN di Whatsapp yang membicarakan tentang festival ngopi 10 ewu yang akan diadakan pada tanggal 21 Oktober 2017. Festival tsb merupakan festival tahunan yang ada di Kabupaten Banyuwangi yang kebetulan berada di desa tempat saya KKN (Desa Kemiren).

Hari terus bertambah dan obrolan ttg festival ngopi sepuluh ewu terus berlanjut. Mbak Nur (salah satu teman KKN saya) menanyakan di grup, siapa saja yang akan berangkat ke festival tersebut. Ya itung-itung lihat festival sekalian nostalgia masa-masa KKN lah. Dia mengajak teman-teman untuk naik kereta bareng-bareng ke Banyuwanginya. Segeralah terlintas ide yang cukup brilian di otak saya, “kenapa tidak coba sepeda motoran saja? Kan naik kereta api sudah pernah”. Mengapa saya sebut itu ide yang brilian? karena naik sepeda motor itu ngirit dan bisa menekan budget #kereunited.

Iseng-iseng saya coba chat salah satu kawan KKN asli Banyuwangi yang bernama Diken. Saya coba mengajak dia sepeda motoran ke Banyuwangi dan hasilnya deal! Sekalian saya juga tanya-tanya tentang pengeluaran untuk BBM dan waktu tempuh kalua sepeda motoran. Dan akhirnya kami sepakat berangkat tanggal 19 Oktober 2017.

19 Oktober 2017…

Subuh, kami pun terbangun. Segeralah kami mandi lalu sarapan. Sekitar pukul 05.00 kami pun berangkat menuju Banyuwangi. Kali ini Diken yang meyetir sepeda motor dan saya digonceng sambal menikmati kegabutan. Jalan Malang – Lawang pagi itu lumayan lancar meskipun kendaraannya lumayan padat lah. Lepas dari fly over Lawang, jalanan sudah relatif sepi dan Diken mulai memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Tidak sampai 30 menit, kami sudah melewati pertigaan Purwosari. Lepas pertigaan purwosari, Diken merasa kebelet BAB dan akhirnya kami menemukan sebuah masjid. Kami pun mampir sebentar di Masjid tersebut.

Kurang lebih 10-15 menitan beristirahat di masjid, kami pun berangkat lagi. Kali ini saya yang menjadi jokinya. Pagi itu jalanan menuju Kota Pasuruan awalnya terasa lengang. Sampai di Warungdowo, jalanan mulai agak padat merayap masuk ke Kota Pasuruan sampai di perempatan pasar. Selepas perempatan tsb, jalanan kembali terasa lengang. Perjalanan dari Pasuruan – Probolinggo terasa cepat karena jalanan yang lengang tetapi agak sedikit membosankan. Kami terus berkendara sampai akhirnya istirahat sebentar di sebuah Indomaret tepatnya setelah Paiton. Setelah beristirahat, kami berangkat lagi dan beristirahat lagi di daerah Situbondo Kota. Kami beristirahat di Alfamart sambil numang ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kurang lebih 15 menit kami beristirahat dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Sekitar pukul 10.45 kami memasuki kawasan Baluran. Saya sangat bersemangat sekali karena rencana awalnya memang ingin mampir ke Baluran. Disini saya memacu motor dengan kecepatan sedang sambil menikmati suasana hutan. Entah kenapa saya merasa suasana siang itu sangat terik dan membuat kekuatan saya menurun 35%. Kalau tidak karena saya ingin mampir ke TN Baluran mungkin saya sudah memutuskan lewat selatan (Jember) yang lebih ‘adem’.

Sebelum ke TN Baluran, kami mampir ke Waduk Bajulmati yang letak pintu masuknya berada di kanan jalan kalua dari arah Surabaya (barat). Memasuki kawasan Waduk Bajulmati ini jalannya berupa turunan kemudian menyebrangi sebuah jembatan lalu jalannya menanjak dan sampailah di spot foto yang lumayan indah. Oh iya disini juga ada semacam gazebo dengan hiasan patung penari gandrung diatas atapnya. Kami pun memarkir sepeda motor di pinggir jalan dan melakukan sesi foto-foto.

Di Waduk Bajulmati ini terdapat spot foto yang terlihat seperti gugusan pulau di Raja Ampat. Selain itu dari sini juga terdaat panorama Gunung Baluran di sebelah timur dan Gugusan Pegunungan Ijen di sebelah barat daya. Sekitar 45 menit kami menghabiskan waktu di tempat ini lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi (Srono).

Baca juga: Waduk Bajulmati: Raja Ampat ‘Wannabe’ di Perbatasan Banyuwangi-Situbondo

waduk bajulmati
Saya (admin)

Rencana awal sih ingin mampir ke Baluran, namun saya urungkan niat tersebut karena cuacanya sangat terik sekali. Ya tidak apa-apa lah, mungkin next time bisa kesana.

Kali ini sepeda motor di joki oleh Diken, karena saya sudah capek. Perjalanan dari Waduk Bajulmati – Banyuwangi – Srono terasa membosankan dan tidak ada hal yang istimewa. Sekitar pukul 13.30 kami akhirnya sampai di rumahnya Diken (Srono).

Berlanjut ke PART 2 ….

Sekian postingan kali ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa follow IG & Twitter kami di @myparadizee dan like fanspage kami @myparadizee  (juga). Share artikel ini jika dirasa memberikan manfaat, terima kasih.

About Muhammad Iqbal Maulana

Sedikit mengeluh dan banyak berbagi. Untuk kepentingan kerjasama, buka halaman Kerjasama dan Review

View all posts by Muhammad Iqbal Maulana →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *