Jalan-jalan ke Desa Gombengsari, Kopinya Maknyus!

DESA GOMBENGSARI

Ditengah rutinitas kuliah kerja nyata (KKN) yang begitu-begitu saja, terlintas ide dipikiran saya untuk main sekaligus berkunjung ke desa sebelah (Gombengsari). Mengapa ke Desa Gombengsari? Karena teman saya (Lutfi) jadi kordes di desa itu.  FYI, saya melaksanakan KKN di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Desa Kemiren merupakan desa wisata berbasis adat dimana penduduknya mayoritas bersuku Osing.

Siang itu tanggal 25 Maret 2017, saya mengontak Lutfi untuk memberitahu bahwa saya jadi berkunjung ke Desa Gombengsari. Setelah mengontak lutfi, saya agak ragu kalau berangkat sendirian ke Desa Gombengsari, akhirnya saya mengajak Mbak Idha. Dia meng “iya” kan ajakan saya dan sepakat berangkat setelah solat Duhur. Oh iya, Lutf juga mengirim lokasi posko kepada saya.

Setelah sholat Duhur, saya dan Mbak Idha berangkat menuju Desa Gombengsari dengan berbekal sepeda motor hasil pinjaman. Tak lupa saya mengirim pesan “otw” ke Lutfi. Langit mendung menemani perjalanan kami. Sampai di depan SMPN 1 Giri, kami berhenti sebentar untuk menyetel GPS agar tidak tersesat wkwk.

Kami mengambil arah menuju perkebunan Kaliklatak. Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya kami memasuki wilayah Desa Gombengsari. Kesan pertama masuk di desa ini yakni desa masih desa banget. Nahlo? Ya feel desanya itu masih terasa, beda sama di Kemiren feel desanya sudah tidak terlalu terasa.

Sekitar 5 menit perjalanan sejak memasuki wilayah Desa Gombengsari, saya tidak kunjung sampai di Posko KKN Desa ini. Saya mengecek HP, ternyata jarak ke Posko tinggal sedikit lagi kira-kira 3-5 menit lagi. Setelah melewati pertigaan kantor Desa Gombengsari, kami belok kanan dan mengikuti jalan menanjak yang ada hingga akhirnya kami berhasil menemukan posko KKN Desa Gombengsari.

Tiba di Posko, kami bertemu Lutfi dan ngobrol-ngobrol santai. Basa-basi menanyakan kabar seperti orang-orang pada umumnya sambil menghisap sebatang rokok. Suasana di Desa ini menurut saya masih alami dan hawanya sejuk. Maklum saja desa ini berada di ketinggian sekitar 500 Mdpl. Setelah ngobrol-ngobrol, Lutfi mengajak saya da Mbak Idha mencicipi Kopi Gombengsari di rumah Pak H.O.

Setibanya di rumah Pak H.O, kami disambut oleh salah satu kerabatnya dan kemudian di buatkan kopi. Sembari menunggu kopi, kami duduk santai sambil ngobrol di terasnya Pak H.O. Tak lama kemudian kopi pun jadi dan Pak H.O keluar menemani kami.

Sambil menikmati kopi dan menghisap sebatang rokok, kami ngobrol banyak hal dengan beliau, terutama yang berhubungan dengan kopi. Menurut Pak H.O, kopi yang disuguhkan kepada kami adalah kopi robusta dengan tingkat penyangraian (kalau tidak salah) medium sehingga kopinya tidak terlalu hitam-hitam amat. Ada yang unik dari kopi ini, jika diberi gula sedikit maka kopinya terasa pahit-pahit enak gitu tetapi kalau diberi gula agak banyak rasanya malah seperti coklat/mocca.

PETERNAKAN KAMBING DESA GOMBENGSARI
Ternak kambing milik Pak H.O

Di rumah Pak H.O juga terdapat peternakan kambing ettawa. Setiap harinya susu dari kambing-kambing itu diperas. Beruntungnya kami pada hari itu, kami datang di saat jam memeras susu kambing. Kami berkesempatan melihat proses pemerahan susu kambing. Agak-agak geli gimana gitu ya liat orang meres susu kambing wkwk.

Setelah susu kambing selesai diperas, kami dipersilahkan mencobanya. Wah kapan lagi mencoba susu kambing yang fresh dari kambingnya. Awalnya saya kira susunya akan berbau sedikit amis, tetapi ternyata tidak ada baunya. Rasanya gurih-gurih enak gitu, apalagi kalau dikasih gula sedikit. Saya juga mencoba mencampurkannya ke dalam wedang kopi dan rasanya benar-benar luar biasa. MANTAP KALI!

Kami kembali membicarakan banyak hal dengan Pak H.O sembari menikmati wedang kopi susu dan berbatang-batang rokok. Sekitar pukul 15.00, kami berpamitan dengan Pak H.O. Agenda selanjutnya, kami akan menuju ke Hutan Pinus Suko. Terimakasih Pak H.O atas jamuannya 😃.

Dari rumah Pak H.O kami bergegas menuju Hutan Pinus Suko. Jalan yang kami lalui semakin menanjak, lebih menanjak daripada jalan menuju posko. Sekitar 5-10 menit kemudian kami sampai di Hutan Pinu Suko.

Hutan Pinus Suko masih terletak dalam wilayah Desa Gombengsari kok, tepatnya di Dusun/Lingkungan Suko. Letaknya persis di sebelah jalan desa. Tidak sulit kok untuk menemukan tempat ini.

hutan pinus suko
Hutan Pinus Suko

Hutan Pinus Suko ini cukup bagus tempatnya apalagi ditemani dengan hawa sejuk yang membuat hutan ini semakin syahdu. Di hutan pinus terdapat sebuah rumah pohon,gazebo, toilet dan warung-warung penjual makanan/minuman.  Oh iya di hutan pinus ini juga terdapat taman-taman kecil yang cukup enak di lihat dan digunakan untuk berfoto ria.

Hutan Pinus Suko
Hutan Pinus Suko (2)

Seperti biasa, kami melakukan ritual foto-foto disini. Tidak banyak foto yang saya ambil pada sore itu karena cuaca sedang mendung jadi agak gimana gitu buat foto.  Tak lama setalah melakukan foto-foto, kami duduk-duduk di bawah sebuah pohon besar. Bercengkerama dan tidak lupa saya merokok.

hutan pinus suko
Lutfi. Mbak Idha dan Saya (Iqbal)

Ditengah-tengah asyiknya kami bercengkrama, ada seorang pemuda desa dan seorang anggota KKN UM Desa Gombengsari datang menemui kami. Bertambahlah keseruan obrolan kami pada sore hari itu. Tak lama kemudian, pemuda desa itu membuatkn kami kopi. Kali ini kopinya tampak hitam dan lebih pait. Cocok banget buat menemani rokok-rokok kelas berat macam surya, Djarum 76, 234, dll. Kami membicarakan banyak hal sore itu.

Tiba-tiba hujan turun, kami pun segera berteduh di salah satu warung yang ada di dekat situ. Hujan turun sekitar 10-15 menitan. Saat kami berteduh, kami diajak mampir oleh tokoh lingkungan disitu (Suko). Bapak Warsito kalau tidak salah namanya. Ciri-ciri orangnya, bertubuh gempal, punya tato di lengan kiri dan punggung, kulitnya agak hitam ah.

Setelah hujan agak reda, kami mampir ke rumah Pak Warsito. Sampai disana kami membicarakan banyak hal, terutama mengenai kondisi Masyarakat di Desa Gombengsari. Kami mengobrol sembari menunggu hujan benar-benar reda.

Sekitar pukul 16.45 hujan sudah benar-benar reda. Saya dan Mbak Idha pun berpamitan ke Pak Warsito, Lutfi, dan semuanya. Saya dan Mbak Idha motor di parkiran hutan pinus tadi dan bergegas pulang.

Dan berakhirlah catatan perjalanan kali ini.

About Muhammad Iqbal Maulana

Sedikit mengeluh dan banyak berbagi. Untuk kepentingan kerjasama, buka halaman Kerjasama dan Review

View all posts by Muhammad Iqbal Maulana →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *