Catper: Rencana Gagal Bukan Berarti Tak Berkesan, Gunung Arjuno via Tretes (3339 Mdpl)

Pendakian ini bermula dari rencana dua orang mahasiswa/cagur yakni saya (iqbal) dan opi untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru pada liburan kuliah semester genap. Lalu kami mengajak teman-teman untuk ikut pada pendakian kali ini. Setelah mengajak beberapa teman, akhirnya kami mendapat tiga orang yang bersedia ikut pada pendakian ini yaitu Ilham, Mis’an dan Dwi L. Setelah mendapat personil yang cukup, kami berembug menentukan tanggal yang pas untuk melakukan pendakian dan akhirnya kami semua setuju melakukan pendakian pada tanggal 23 Mei 2016.  Setelah semua perencanaan beres, saya pun melakukan booking online pendakian semeru agar tidak kehabisan kuota.

Kabar buruk datang…..

H-1 pendakian yakni pada tanggal 22 Mei 2016, muncul berita yang sedang ramai diperbincangkan tentang hilangnya dua orang pendaki di Gunung Semeru. Usut punya usut ternyata hilangnya dua orang pendaki tersebut menyebabkan pendakian Gunung Semeru ditutup total sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mengetahui hal tersebut kami merasa kecewa karena uang booking kami hangus dan pendakian ini terancam gagal. Namun sudah kepalang tanggung, semangat kami untuk mendaki sudah terlanjur membara dan mau tidak mau kami harus mencari alternatif tujuan lain untuk didaki.  Kami pun berunding mencari alternatif tujuan tersebut dan akhirnya kami memilih untuk melipir ke Gunung Arjuna via Tretes. Kami memilih jalur tretes karena saya dan mis’an sudah pernah melewati jalur tsb ketika mendaki gunung welirang dan ketersediaan sumber air disetiap pos.

Hari pendakian pun tiba….
Foto dulu di basecamp.
Dari kiri ke kanan: Ilham, Iqbal (aku), dwil, misan, opi

Basecamp – Pos 1 (Pet Bocor) (10.00 – 10.30). Setelah semua urusan selesai, pukul 10.00 kami mulai melakukan pendakian dimana target kami sampai pos 3 (Pondokan). Trek berbatu mulai kami tapaki. FYI jalur tretes ini mulai dari basecamp – pos 3 treknya berupa batu-batu yang disusun rapi. Sampai di Pet Bocor kami break sambil ngobrol tentang amunisi pengobat dengkul apa yang dibawa oleh teman-teman, ternyata ada basem otot geliga, salonpas cream dan hot in cream. Saat dwil sedang menayakan apakah ada yang membawa koyo, secara kebetulan datang ibu-ibu yang baru turun gunung dan mendengar pembicaraan kami kemudian ibu itu memberi kami hansaplast dan dwil menerimanya dengan malu-malu. Sontak kami semua bengong, mintannya koyo kok dikasih hansaplast haha. Setelah ibu itu pamit kepada kami untuk menlanjutkan perjalanan kami semua tertawa terbahak-bahak. Disini saya tak lupa untuk nyatai sambil menghisap rokok. Maklum saja dalam rombongan ini hanya saja manusia ‘2 tak’ diantara 4 manusia ‘4 tak’. Ditengah-tengah kami mengobrol, tiba-tiba turun hujan deras. Setelah break 30 menit, kami melanjutkan pendakian dengan mengenakan mantel.

Pos 1 (Pet Bocor) – Pos 2 (Kop-Kopan) (11.00 – 14.30). Selama perjalanan menuju pos 2 tidak ada yang spesial, hanya hujan dan kabut yang setia menemani kami. Setelah 3 setengah jam berjalan kami akhirnya tiba di Kop-Kopan dan break. Disini hujan sudah reda tapi kabut masih setia menemani kami. Kami pun ngobrol ngalor ngidul lagi dan tidak lupa saya menyalakan rokok agar tidak kedinginan *loh. Disini kami juga mengisi persediaan air karena di Kop-kopan terdapat mata air berupa pancuran yang lumayan deras airnya. Pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan kembali menuju pos tiga.

Pos 2 (Kop-Kopan) – Gubug (Camp) (15.00 – 16.30). Target untuk ngecamp di pos 3 hanyalah target karena dengkul kami berkata lain. Sekitar satu setengah jam berjalan kami sampai di sebuah gubug. Setelah berunding untuk lanjut atau tidak, akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di gubug tersebut. Kami segera mendirikan tenda dan melakukan bongkar muat barang. Kami mendirikan tenda di iringi lagu T-ara – day by day dan T-ara ft davichi – we were in love yang disetel dari hp saya. Setelah tenda berdiri satu per satu bergantian ganti baju dan menjemur baju yang basah di kayu-kayu gubug itu hingga tanpa terasa mathari telah terbenam.

Suasana sore itu di camp

Malam mulai tiba, kami melakukan ritual masak-memasak dengan menu mie instan dan setelah semua perut terisi, kami semua hanya ndekem didalam tenda sambil mengenakan SB masing-masing. Kami berunding tentang perjalanan esok hari dan kami sepakat besok berangkat pukul 03.00 dan kemudian kami tidur sekitar pukul 18.30 an. Sekitar pukul 20.00 saya terbangun dari tidur karena udara terasa panas di dalam tenda. Kemudian saya keluar tenda untuk mencari angin segar dan tak lama kemudian disusul oleh ilham. Kami berdua kemudian membuat wedang susu anget untuk diminum sembari menikmati indahnya kelap-kelip lampu kota di bawah sana. Sungguh malam yang indah sekali. Jangan tanya saya minum susu sambil ngapain, tentu saja saya sambil ngerokok dong haha. Setelah wedang habis dan udara semakin dingin kami melanjutkan tidur lagi.

24 Mei 2016……

Gubug (Camp) – Pos 3 (Pondokan) (03.00 – 07.30). Pukul 03.00 alarm hp berbunyi dan saya mulai membangunkan teman-teman dari tidurnya. Setelah semua bangun, kami segera packing barang-barang yang akan dibawa muncak dan sarapan roti tawar dengan olesan susu kental manis. Pukul 04.00 kami memulai perjalanan pada hari kedua.

Selfie dulu lah!

Pukul 07.30 akhirnya kami sampai di Pondokan. Disini kami melakukan ritual masak memasak dan mengisi persediaan air. FYI, di pondokan ini merupakan percabangan dimana ke kekiri menuju gunung arjuna dan lurus menuju gunung welirang. Pukul 09.00 setelah semua perut terisi kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Arjuna.

pondokan arjuno
Pos 3 (pondokan)
Masak-masakan

Pos 3 (Pondokan) – Lembah Kidang – Watugede – Pasar Dieng – Puncak Arjuna (09.00 – 15.30). Sekitar 30 menit berjalan kami sampai di Lembah Kidang. FYI selepas pondoka menuju puncak arjuna, trek sudah berganti menjadi trek tanah. Disini pemandangannya indah sekali, kami dapat melihat puncak arjuna dari sini. Dengan pemandangan seindah ini kami langsung melakukan sesi foto-foto.

Selfie lagi di lembah kidang

Setelah sesi foto-foto (lagi) kami melanjutkan perjalanan lagi. Ternyata setelah lembah kidang ada savana lagi dan pemandangannya taidak kalah indah lho dan tentu saja kita melakukan sesi foto-foto (lagi) -_-.

Sabana 2

Trek yang kami lalui sangat menguras tenaga karena trek yang terjal dan menanjak tanpa bonus. Satu – dua jam berjalan kami sampai juga di watugede dan break 5 menit. Disini kami bertemu dengan 3 orang turis asal malaysia yang didampingi oleh porternya. Saya juga menyematkan bertanya ke turis itu kurang berapa jam lagi ke puncak? Dan jawabnya kalau saya dari sini ke puncak 3 jam. ‘oh fuckkkkk’ gumamku dalam hati sambil melihat tanjakan didepan yang rasanya tak berujung. 5 menit telah berlalu kami melanjutkan perjalanan kembali. Baru dapat satu/dua tanjakan opi meminta untuk break lagi karena isi perutnya yang bergejolak dan merengek minta dikeluarkan. Akhirnya kami break dibawah pohon yang lumayan besar dan seperti biasa sambil ngobrol ngalor ngidul sementara opi mengadakan ‘hajatan’ dibalik semak-semak dielakang pohon hahaha. Ketika sedang asyik-asyiknya mengobrol tiba-tiba wussssss bau yang sangat indah mampir ke hidung kami yang membuat kami pindah tempat break. Usut punya usut ternyata bau itu adalah bau ‘itunya’ opi *ewh. Sekitar 20 menitan akhirnya kita kembali melanjutkan perjalanan. Tanjakan yang kami lewati kalo ini semakin menjadi-jadi ditambah lagi stamina kami yang mulai terkuras. Wajah-wajah kami terlihat capek menjurus teler alias K.O. Satu jam berjalan, sampailah kami di pertigaan jika ke arah kiri menuju Gunung Arjuna dan ke kanan menuju cangar, gunung welirang, gunung kembar 1 dan 2. Kami terus berjalan menapaki tanjakan demi tanjakan hingga kami sampai di trek yang lumayan landai. Disini kami break lagi ngobrol ngalor ngidul, mengeluh dan makan nata de coco untuk mengisi energi. Setelah 20 menit break, kami lanjut gaspol lagi menuju puncak. Sekitar 30 menit berjalan, vegetasi mulai terbuka dimana angin yang bertiup cukup membuat saya merasa kedinginan dan memaksa saya untuk menggunakan jaket.

Vegetasi mulai terbuka

Oh iya setelah break tadi rombongan kami terpecah menjadi 2 dimana saya, mis’an dan ilham berjalan di depan sementara opi dan dwi l berjalan di belakang. Di bukit menjelang pasar dieng, misa’an memutuskan menunggu opi dan dwi l sementara saya dan ilham lanjut mencari jalan ke puncak. Kami sudah janjian untuk bertemu di puncak karena di pasar dieng, puncak sudah terlihat jelas. Di pasar dieng kami saya dan ilham bertemu dengan dua orang bule yang sedang bugil sambil ngoncek i nanas, ‘buset, wong iki gendeng bek e, adem e kyk ngene gak klamben, jan kulit badak tenan wong iki’ gumamku dalam hati. Dua orang bule ini sempat bertanya kepada saya dan ilham apakah di gunung arjuno terdapat kawah dan saya menjelaskan bahwa di gunung arjuno tidak terdapat kawah, jika ingin melihat kawah sebaiknya ke gunung welirang saja. Ternyata bule itu tek-tok an arjuna via lawang -_-. Setelah berbinang bincang dengan bule tadi, saya dan ilham kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak melewati satu turunan dan voilaaa, puncak terlihat sangat sangat jelas menyisakan satu tanjakan lagi yang membentang di depan mata. Akhirnya pukul 15.00 kami sampai puncak Arjuno, yesssss! Kami disambut oleh seseoang yang sedang bertapa dan ngobrol-ngobrol tanya kami naik dari mana, Kami menjawab naik dari tretes dan orang itu menjelaskan jika naik lewat purwosari lebih ceat dan enak seperti dirinya. Terlintas dipikiranku jika orang ini datang kesini untuk mencari ‘ilmu’ karena dia naik dari purwosari yang terkena sebagai jalur spiritual dan orang ini hanya membawa tas kecil yang sepertinya isinya cuma sedikit, tapi ah yasudahlah yang penting kami sudah sampai puncak. Sayup-sayup dari bukit seberang terdengar suara Dwi L yang menanyakan keberadaan kami yang langsung kami balas denga teriaka ‘aku wes ndek puncak!, ayo dilut ngkas tekan!’.

Dari percabangan jalur lawang/purwosari kami melihat rombongan pendaki yang tengah menuju puncak. Pukul 15.30 akhirnya mis’an, opi dan dwil sampai di puncak, selamat gaesss!. Langsung saja kami meluapkan kegembiraan kami dengan sesi foto-foto dan salam-salam *eh. Tak lama kemudian rombongan dari lawang juga sampai dipuncak dan ngobrol-ngobrol dengan kami. Mereka bertanya sumber air, langsung saja kami ingat bahwa persediaan air kami juga menipis.

Aku
Ilham
Mis’an
Dwil
Opi
Kami

Puncak Arjuno – Pasar Dieng – Watugede – Lembah Kidang (16.30 – 19.30). Pukul 16.30 kami turun dari puncak. Ketika mulai melewati bukit di seberang puncak, cuaca berubah menjadi mendung kemudian turun hujan dan disertai kabut yang membatasi jarak pandang kami. Seketika keadaan berubah menjadi mencekam dan habisnya persediaan air juga menambah tegangnya pikiran kami untuk bisa selamat. Kami berjalan dengan perlahan dengan di iringi doa-doa agar bisa selamat dari keadaan ini. Menjelang pertigaan Arjuno-Welirang, malam mulai menyambut perjalanan kami. Disini rombongan kami juga terpecah dimana saya dan ilham di depan, opi dan dwil di tengah, serta mis’an di belakang sendiri. Saat perjalanan kami saling melempar dan membalas teriakan untuk memperkirakan jarak kami satu sama lain dan dwil meminta saya dan ilham untuk menunggu di watugede. Saya dan ilham kembali berjalan dan ahirnya sampai watu gede. Disini saya dan ilham break untuk menunggu rombongan di belakang. Langit masih tetap meneteskan air meskipun sudah tak terlalu deras, namun dinginnya malam itu ditambah keadaan yang tidak bergerak membuat saya kedinginan sekali. Saya meminta ilham untuk melanjutkan perjalanan sambil mencari tempat yang lumayan tertutup untuk break. Sedikit dibawah watu gede kami breaklagi dan tidak lama kemudian rombongan kami sudah jangkep lagi. Kami lanjut menuju lembah kidang dimana yang ada dipikiran kami saat itu hanyalah air dan air. Selepas watu gede trek sudah lumayan landai yang membuat langkah kaki semakin cepat untuk melangkah. Pukul 19.30, akhirnya kami sampai di lembah kidang, beruntung setibanya kami disini hujan sudah reda. Disini kami mengisi air dan mengadakan ritual masak-memasak untuk mengisi energi kami karena masih ada satu etape lagi yang harus kami tempuh malam itu. Kami memasak mie instan malam itu. Setelah semua mie matang kami langsung melahap mie tersebut seperti orang yang kelaparan *maafkan -__-.

Lembah Kidang – Pos 3 (Pondokan) – Gubug (Camp) (20.30 – 24.00). Setelah ritual masak memasak dan makan-makan selesai, pukul 20.30 kami melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan lembah kidang ke pondokan tidak terlalu menguras tenaga karena treknya relatif datar. Pukul 21.00, kami sampai di pondokan dan mengambil persediaa air yang kami sembunyikan dibalik semak sewaktu berangkat, lalu gaspol lagi menuju camp. Trek tanah berganti dengan trek berbatu yang cukup membuat kaki lumayan ngilu L. Tak banyak yang bisa diceritakan selama perjalanan pondokan ke tempat camp. Kami berjalan perlahan tapi pasti dengan sisa-sisa tenaga yang kami miliki hingga akhirnya pukul 24.00 kami tiba di tempat camp. Tiba di tempat camp kami langsung beres-beres, ganti baju dan menyiapkan perlengkaan tidur. Opi dan dwil tidur duluan sementara saya, mis’an dan ilham membuat wedang susu hangat terlebih dulu. Sekitar pukul 01.00 saya dan teman-teman tertidur lelap.

25 Mei 2016……

Sekitar pukul 06.30 saya terbangun dari tidur, sinar matahari sudah menerangi tenda. Segera saya membangunkan teman-teman. Setelah semua bangun, kami langsung saja ritual masak – memasak dilakukan. Kali ini menunya adalah mie instan, super bubur, pilus dan marning jagung. Setelah masakan jadi, kami langsung makan dengan lahapnya. Perut sudah terisi, kini kami melakukan packinguntuk turun ke basecamp.

Gubug (Camp) – Pos 2 (Kop-kopan) – Pos 1 (Pet Bocor) (08.00 – 11.40). Setelah semua beres, pukul 08.00 kami memulai perjalanan turun ke basecamp. Dari gubug ke Kop-kopan kami banyak melewati jalur trabasan yang lumayan memotong jalur bebatuan yang ada. Sekitar setengah jam kemudian kami sampai di kop-kopan, disini kami gosok gigi dan nyantai dulu. Maklum saja sudah dua hari kami tidak mandi dan gosok gigi :’). Pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan lagi menuju pet bocor. Masih tetap dengan jalan berbatu yang membosankan dan membuat kaki ngiluu menemani perjalanan kami. Entah mengapa cuaca mendung di kop-kopan berganti menjadi panas terik ditengah-tengah perjalanan. Panas terik membuat kami cepat haus dan keringat bercucuran. Oh iya saat perjalanan turun ini rombongan kami kembali terpecah lagi, dengan saya dan ilham di depan, opi dan dwil di tengah dan misan dibelakan sendiri. Pukul 10.30 saya dan ilham sampai di pet bocor dan beristirahat meluruskan kaki yang sedari tadi dihajar trek berbatu sambil menunggu yang lain datang. Satu, dua, tiga batang rokok telah kuhisap namun mereka tak kunjung datang. Akhirnya puku 11.30 an opi dan dwil sampai di pet bocor sementara misan sampai 10 menit kemudian. Di pet bocor kami berisitirahat lumayan lama, mungkin sekitar 30 menitan lah. Oh iya disini kami juga bertemu tiga turis asal malaysia itu lagi bersama porternya.

Ngaso di Pos 1

Pos 1 (Pet Bocor) – Basecamp Tretes (12.10 – 12.40). Sekitar pukul 12 an kami melanjutkan perjalanan lagi ke basecamp tretes. Baru beberapa langkah kami berjalan kami bertemu dengan rombongan karyawan PLN yang mau naik ke welirang. Mereka nampaknya sudah tua-tua dan didampingi oleh beberapa pegawai yang lebih muda. Saat kami berpapasan dengan salah satu pegawai PLN tersebut, pegawai itu berkata “lho mau kemana? Naik lagi ayo! Hahaha”, kami hanya menjawab dengan senyuman saja. ‘suwun lo pakde ajakan e’ batin saya dalam hati. Pukul 12.40 kami sampai di basecamp dengan selamat. Akhirnya pendakian ini selesai juga meskipun menyisakan sakit kaki yang lumayan… (baca: dengkul koklok)

  • Selamat iqbal dan mis’an telah berhasil mendaki trio penanggungan, welirang dan arjuna.
  • Selamat opi dan ilham yang ngidam ke arjuna, ini puncak 3000an pertama kalian gaesss.
  • Selamat dwil buat puncak 3000an pertamanya, you’re strong girls! Hahaha.

Dan yang terakhir kalian biasa diluar gaesssss! 😀

Foto-foto diatas diambil dari:

  • Sony Xperia Z1
  • Nikon L840
  • Xiaomi Yi

About Muhammad Iqbal Maulana

Sedikit mengeluh dan banyak berbagi. Untuk kepentingan kerjasama, buka halaman Kerjasama dan Review

View all posts by Muhammad Iqbal Maulana →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *